| Views |
2933  |
|
|
|
Pak Syamsuddin Yth (http://syamsuddin-ideris.blogspot.com),
Terimakasih atas tanggapan Anda. Panjang, dan bermutu. Saya akan jawab.
PC Media wrote:
> -------- Original Message -------- > Subject: Kritik Tulisan Bernaridho I Hutabarat > Date: Fri, 20 Feb 2009 08:04:12 +0800 (BNT) > From: Syamsuddin, S.Pd <
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
> > To:
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
> > Tapi saat ini saya kecewa terhadap majalah PC-Media. Pada edisi 03/2009 > terdapat tulisan yang bernada menghina dan menghasut pembaca agar > menjauhi software-software Free seperti Linux dan lain-lain. Tulisan > yang dibuat Bernaridho I Hutabarat yang katanya seorang Business > Intelligence Expert pada kolom viewpoint sangat rancu. Pemikiran yang > dibangun tidak dilandaskan pada logika yang harusnya dimiliki > seorang "expert". Malah isi tulisannya seperti perilaku para > pedagang kecil tak berpendidikan di pasar-pasar kumuh. > Yakni, usaha menjual dagangan dengan menjelek-jelekkan > dagangan pesaing.
Sepanjang yang bisa saya pikirkan, saya tidak minta pembaca menjauhi software-software free seperti Linux. Linux handal, banyak dipakai sebagai server. Adalah bodoh saya minta banyak orang menjauhi Linux, karena handal, dan lebih aman dari serangan virus. Saya sendiri tidak sedang berdagang. Apakah saya mendagangkan Microsoft? Tidak. Saya sampai saat ini tidak menjadi reseller Microsoft Windows ke client saya. Saya biarkan mereka memilih. Saya recommend Windows hanya kalau mereka memang perlu SQL Server, dan recommend Linux kalau mereka perlu yang lain (Oracle, Postgre, MySQL). Saya sendiri sering (dan masih) bekerjasama dengan distributor RedHat di sini, mereka membaca tulisan2 saya di PC Media dan Warta e-gov. Mereka tidak tersinggung.
Saya berusaha pertahankan title 'Business Intelligence Expert'. Bisnis harus melihat banyak aspek. Balanced score-card adalah contoh dimana pelaku bisnis diajarkan untuk tidak melihat dari satu aspek saja.
Anda mungkin melihat free software hanya dari satu sisi: enaknya konsumen. Anda tidak melihat efeknya di bidang produsen. Kalau memang free software sangat bagus di Indonesia ini, mengapa banyak orang-orang yang lebih diagungkan (daripada saya) dalam hal bisnis di Indonesia ini tidak terjun di bidang itu? Tidak membuat software-software gratis kpd seluruh bangsa Indonesia. Tolong tanya kepada mereka. Dan kenapa Anda tidak berbisnis dengan membuat free software? Kalau bisnis spt itu sangat bagus mengapa tidak Anda lakukan sbg produsen? Tolong tanya diri Anda sendiri.
> Memang saat ini software propiatery yang dirajai Microsoft. Saingannya > tengah tumbuh dan berkembang komunitas open source yang mencoba mengajak > membuat dan menggunakan software open source. Komunitas ini dimotori oleh > Richard Stallman dengan proyek GNU-nya. Komunitas ini menghasilkan dan > menggunakan software yang berkualitas dan gratis yang telah lama menjadi > saingan Microsoft. Tentu saja Bill Gates cs menjadi kebakaran jenggot > karena pundi-pundi uangnya terus digerogoti. Saat ini makin banyak > perusahaan besar, lembaga pemerintahan, dan individu yang menggunakan > software open source. Nah, Stallman dan komunitas open source yang banyak > berjasa dalam dunia IT ini disebut oleh sang "expert"-nya PC-Media > sebagai > "pengemis". Sungguh suatu hal yang kontraproduktif ditengah usaha > Depkominfo mensosialisasikan gerakan IGOS (Indonesia Go Open Source).
Baik, pertama-tama Anda di sinipun menyandingkan dua istilah yang tidak setara (lihat kritikan Anda pada paragraf lain): Stallman dan open source. Stallman berfokus pada free software, dia sendiri tidak menyukai istilah open source, tidak menyamakan gerakannya sebagai gerakan open source.
Tentang berjasa: berjasa kepada siapa? Di dunia ini hampir selalu ada 2 sisi. Stallman mungkin berjasa kepada banyak pemakai yang tidak mau membayar. Tapi berjasakah Stallman kepada orang yang mengandalkan pemasukannya sebagai programmer?
Seorang pencuri yang membawa hasil pencuriannya mungkin berjasa bagi keluarganya karena membawa penghasilan, tapi berjasakah dia bagi orang yang dicurinya? Maaf, analogi ini ekstrim, tetapi yang penting adalah: kita tidak bisa melihat hanya dari satu sisi.
Saya melihat banyak orang membela Stallman hanya karena mereka dapat enaknya aja. Manusia memang cenderung membela orang yang menguntungkan dirinya. Maaf, bukankah kroni Soeharto juga demikian? Jadi, kita membela karena ada keuntungan kita, seringnya begitu.
Kalau Anda mau buktikan sahihnya argumen Anda (dan bukan karena mau enaknya aja), cobalah berkarya seperti Stallman, buat software gratis (dan andalkah hidup Anda hanya dari pekerjaan itu), dan lihat apakah jasa yang Anda lakukan itu bermanfaat bagi keluarga Anda. Anda mungkin dilihat sebagai pahlawan oleh banyak orang (kalau memang Anda bisa buat software yang sehebat Linux / Mozilla dll), tapi apakah Anda berjasa kepada keluarga?
Keluarga saya tidak akan melihat saya sebagai kepala keluarga yang bertanggungjawab andai saya melakukan hal spt di atas. Ttg keluarga Anda, cobalah lakukan spt di atas, dan lihat respon keluarga Anda. BTW: saya ragu Anda sanggup buat software sehebat Linux / Mozilla, but you can prove me wrong.
Kembali ke point bahwa kita harus lihat lebih dari satu sisi: jangan lihat dari sisi berjasa saja: berjasa kepada siapa? Bukankah ungkapan 'Guru pahlawan tanpa tanda jasa' juga menghadirkan sejumlah efek buruk di negeri ini? Banyak guru mungkin menjadi pahlawan bagi orang lain tapi tidak bagi keluarganya sendiri. Bahkan Mahatma Gandhi tidak dianggap sebagai pahlawan oleh anak-anaknya, karena terlalu sibuk mengurus banyak orang (dokumentasi Metro TV).
Kembali: Anda mungkin membela free software karena pingin enaknya aja. Dan takut kalau orang-orang mulai berpikir bahwa sebagian besar orang di dunia ini mau enaknya saja dan mulai tidak menggratiskan produk.
Sekarang tentang Depkominfo dan IGOS. Saya baru saja diskusi selama beberapa hari dengan seorang pejabat eselon 3 Depkominfo. Dia katakan bahwa Kominfo mengubah strategi dalam mempromosikan OSS. Dulu cara promosinya adalah 'gratis'. Sekarang tidak. Mereka bilang: 'lebih murah dan lebih handal'. Mereka menyadarkan orang-orang di pemerintah bahwa membuat software itu tidak murah.
Coba pikir kenapa Kominfo berubah cara? Karena kalau mereka terus menekankan gratis, akan ada dilema. Dilemanya: orang Indonesia jadi malas membuat software, karena pemakai maunya (dan dibuai) oleh yang gratis. Kita akan terus jadi konsumen, tidak jadi produsen. Model bisnis untuk membuat software gratis tidak bagus, at least di Indonesia ini.
> Saya heran, Bernaridho yang katanya seorang "expert" menjelek-jelekkan > komunitas free sofware dengan alasan yang tidak dapat dipertanggung > jawabkan secara logis dan cenderung menghasut. bahwa Amerika kehilangan > banyak uang akibat banyak menggratiskan software. Coba simak potongan > tulisannya:
Saya tidak perlu menghasut. Beberapa programmer juga tidak suka dengan fakta bahwa mereka tidak mendapat uang dari software. Itu tekanan yang dialamatkan kepada Stallman dan FSF sehingga ada LGPL (Lessen GNU Public License), lisensi yang membolehkan orang menutup source-codenya dan bisa berbayar. Stallman setengah mati menentang ini tapi akhirnya mengalah juga. Orang-orang yang menekan Stallman ini tidak terhasut oleh saya, mereka melakukannya sebelum saya menulis di PC Media.
Mungkin Stallman akhirnya sadar tidak semua orang setuju 100% dengan dia. Stallman tidak berkeluarga. Banyak orang di dunia ini berkeluarga dan tidak ingin hidup dengan ideologi/cara yang sama dengan Stallman.
Amerika Serikat menghabiskan banyak uang melalui kegiatan charity. FSF dan mungkin banyak badan lain adalah badan charity. Tentu saja krisis prime mortgage juga berperan dan mungkin paling berperan. Krisis keuangan tidak hanya tentang prime mortgage, tetapi juga tentang pendanaan ke badan-badan charity. Kalau Anda ikuti dengan cermat beberapa bulan awal liputan krisis keuangan di CNN, disebut bahwa krisis tersebut akan mempengaruhi pemasukan ke badan-badan charity juga.
Artinya? (1) Broker-broker pendanaan (saya sebut ttg broker di artikel saya) ke badan-badan charity juga berperan dalam krisis keuangan. (2) Krisis keuangan memaksa orang-orang di kegiatan charity untuk lebih bertanggungjawab. FYI (3) Anda pernah membaca bagaimana pelaksana kegiatan charity spt musik, rehabilitasi Aceh, dsb menyelewengkan pemasukan?
> "Stalman, FSF (Free Software Fondation :red), serta perusahaan / individu > pembuat software gratis telah melemahkan daya saing Amerika. Dengan > membuat banyak software gratis dan memberitahu sangat banyak hal tentant > TI, membuat Amerika kehilangan banyak uang. > > Bandingkan dengan Jepang yang sangat merahasiakan teknologi baterai, > energi, dan mobil elektronik/hibrida/hidrogen. Dengan cara itu, Toyota > sangat berjaya dalam penjualan mobil hijau, sementara GM, Chrysler dan > Ford harus minta uang dari Pemerintah Amerika karena bangkrut". > > Aduh, logika yang kacau.
Saya pikir tidak kacau. Di PC Media saya lanjutkan tulisan di atas dengan tulisan bahwa AS banyak berhutang kepada Cina. Dimana kacaunya? Bukankah kegiatan improve Linux, membuat Free BSD butuh uang? Karena Cina dan Jepang tidak jor-joran membuat sesuatu yg gratis, bukankah mereka akan mendapat uang lebih banyak dan akhirnya Amerika berhutang ke Cina? Justru sangat logis.
> Kesalahan pertama: Krisisi di Amerika bukan karena software gratis tapi > akibat macetnya mega kredit perumahan.
Sudah saya jawab.
> Pokok tulisan kan membahas masalah TI, yakni software gratis tapi kenapa > analoginya dalam dunia otomotif. Sejak kapa n ada perusahaan otomotif > Amerika seperti GM, Chrysler dll yang membuat mobil gratis dan > memberitahukan rahasia teknologi mereka kepada publik. Nggak ada coy! > trus > apa bedanya dengan Jepang, nggak ada. Mereka membuat mobil yang nggak > gratis, teknologinya dirahasiakan dan dijual kepada pembeli.
Simak perbandingan saya: sejelek-jeleknya mobil GM, Chrysler, dan Ford; lebih baik bagi AS membuat produk-produk nongratis tsb daripada membuat produk-produk yang gratis. Minimal dengan membuat produk nongratis, GM, Chrysler, dan Ford tidak tidak perlu minta donasi dana seperti halnya badan-badan charity.
Saya buat analogi dengan dunia otomotif karena mudah dipahami.
> Kalaupun saat ini banyak perusahaan Amerika bangkrut adalah karena efek > domino krisis kredit perumahan di Amerika. Tentunya kalau Bernaridho > sering membaca dan menonton TV akan tahu bahwa saat ini tengah terjadi > krisis global yang dipicu masalah macetnya kredit Subprime mortage di > Amerika, bukannya akibat Amerika kebanyakan membuat software gratis. Saya > sarankan agar Bernaridho sebelum berbicara krisis di AS agar lebih dahulu > membaca tulisan di EOWI.
Oh ya, saya nonton TV. Saya berusaha amati dengan lebih cermat tentang krisis keuangan walau saya bukan pakar di keuangan. Penjelasan selanjutnya sdh saya buat di paragraf-paragraf sebelumnya. Kaitan krisis keuangan dgn charity sudah Anda ikuti di media massa?
> Kesalahan kedua: Open Source, Freesoftware dan Software Gratis tidak > sama. > Lagi-lagi sang "expert" membuat kesalahan. Entah sengaja atau tidak > menggiring opini publik bahwa software open source sama dengan > freesoftware sama dengan software gratis. Padahal ketiga istilah tersebut > tidak sama.
Mungkin saya membuat kesalahan, tapi di paragraf mana persisnya? Saya pernah menulis tentang Free software dan opened source-code di Info Linux, dan saya membedakan keduanya. Juga di Warta e-gov. Mungkin Anda tidak membaca tulisan-tulisan tersebut.
> Open source adalah sebuah gerakan yang mengajak membuat software agar > membuka rahasia teknologinya. Pemakai diberi kebebasan untuk mengcopy, > mengubah dan melihat source code software Open Source. Tapi Open Source > tidak harus gratis. Pembuat software open source bisa menjual > softwarenya, > menjual jasa konsultasi pemakaian softwarenya. Ternyata hal ini merupakan > cara berbisnis yang hebat.
Penjelasan Anda ini terlalu disederhanakan, tapi saya tidak ingin debat panjang. Singkat saja: Open Source tidak berarti Anda bebas untuk meng-copy. Itu tergantung definisi dari lisensi. Dan ada berbagai issuer (licensor) dari lisensi di dunia ini yang mengklaim produk mereka sebagai open source tapi tidak 100% sama dengan definisi Anda di atas. Sebagai contoh: ada yang memberi izin/lisensi untuk melihat source-code tapi tidak izinkan Anda untuk distribute/copy secara bebas.
> Trus, apa itu freesoftware. Nah, software kategori ini bisa gratis tapi > tidak harus membeberkan rahasia kode programnya kepada pemakai. Sedangkan > istilah software gratis tidak umum dalam dunia TI karena mengandung > banyak arti dan terlalu luas.
Benar, free software adalah tentang gratis, dan tidak tentang source-code. Tapi kalau Anda mengacu kepada FSF, Anda harus cek ulang apa yang Anda tulis. BTW baca juga website FSF tentang istilah 'gratis'.
> Kesalahan ketiga: Donasi di samakan dengan Mengemis. > Nah, inilah yang saya sebut menjelek-jelekkan. Donasi tidak sama dengan > pengemis. Donasi biasa digunakan perusahaan pembuat software open source > (walau tidak selalu) sebagai cara untuk mencari dana riset. Biasanya > pemberi donasi adalah individu/perusahaan yang merasa puas karena telah > mengunakan software open souce. Jadi tidak ada paksaan. Donasi diberikan > oleh pengguna software open source, trus merasa puas, merasa berhutang > budi dan selanjutnya berpikir untuk ikut menyumbang kepada pembuat > software. Donasi diberikan atas dasar adanya jasa dan bersifat sukarela. > Toh, tidak ada atau jarang sekali pemberi donasi diluar pengguna software > open source.
Donasi mungkin tidak 100% sama dengan mengemis. Tapi sekarang begini, bisnis di banyak industri lain tidak mengandalkan pemasukan mereka dari donasi. IndoMie, Telkomsel, Airlines, dll tidak mengandalkan pemasukan mereka dari donasi.
Anggap suatu hari orang tidak tertarik lagi mendanai FreeBSD atau FreeDOS, sehingga produk ini discontinued. Apa artinya? Dalam kacamata bisnis, mendapatkan uang dari donasi = mengemis. Mereka terus menerus andalkan uang dari donatur. Pebisnis tidak andalkan uang dari donatur.
Solusi yang akhirnya dibuat orang-orang adalah dengan membuat badan charity. Ini memang lebih halus daripada mengemis, saya setuju. Tapi kalau mengatakan meminta donasi != mengemis dalam hal membuat produk-produk seperti software, apalagi untuk bersaing dengan produk komersial, saya 50% setuju 50% tidak setuju. Itu juga saya berlakukan ke diri saya dalam hal pendanaan Nusa.
Sebenarnya Microsoft bisa saja berpikir ada penyalahgunaan terhadap donasi ke FSF. FSF bisa dituduh untuk bersaing dengan entitas bisnis tapi memakai cara donasi. Saya bukan ahli hukum, saya hanya melihat ini bisa jadi kasus hukum (persaingan usaha) yang menarik untuk ditelaah, terlepas dari siapa yang akan menang.
Contoh: pernah ada debat tentang Yayasan Pendidikan di Indonesia. Yayasan seyogianya tidak mendatangkan keuntungan, tapi toh banyak orang membuat yayasan sebagai kedok. Orang2 yg membuat lembaga pendidikan tanpa membuat yayasan mempermasalahkan orang-orang yang berkedok 'non-profit' tapi bersaing secara TIDAK SEHAT dengan orang-orang yang jelas profit-oriented. Kalau mau bertarung secara jantan, ya head-to-head, jangan pakai cara yayasan.
> Sedangkan mengemis adalah meminta uang tanpa ada imbal jasa sama sekali. > Sekedar menanaikan tangan dan mengharapkan kemurahan hati pemberi. > Pengemis biasanya dianalogikan dengan gembel, kumuh, tak berpendidikan, > meminta-minta di tengah jalan.
Tulisan sering ada konteksnya. Konteks saya adalah donasi dan charity dalam kegiatan membuat software. Apakah orang-orang (terutama brokernya) selalu tidak sekedar mengharapkan kemurahan hati? Kadang-kadang donatur mau menyumbang dan tidak memiliki banyak harapan, mirip kepada apa yang kita lakukan kepada pengemis.
> Nah, beda dong dengan komunitas atau perusahaan open source. Mereka > bekerja, tanpa dibayar membuat software, memberitahukan rahasia kode > program. Pengguna bebas memakai, mengkopi, mendistribusikan dan mengubah > kode program. Wajar dong kalau mereka mengetuk hati para pengguna yang > mempunyai hati yang baik dan sedikit kelebihan uang untuk membantu dengan > donasi. Tidak ada paksaan. Dan agar pembaca tidak dibodohi tolong > diingat, donasi tidak sama dengan mengemis.
Sudah dijawab
> Saya kecewa berat dengan PC-Media dan menyatakan akan berhenti > berlangganan jika bulan depan Bernaridho masih mengisi tulisan di > viewpoint. Harusnya pihak redaksi PC-Media selektif dalam memilih > penulis.
> Perhatikan sisi keahlian dan kapasitas penulis. Jangan sampai tulisan > bernada menghasut karena akan membodohi pembaca untuk menjauhi open > source. Tentu hal ini bertentangan dengan semangat pemerintah > memasyarakatkan open source melalu program IGOS-nya. Semoga saja > kesalahan tulisan ini bukan akibat trik dagang murahan, bukan pula > karena penulis mendapat order dari Microsoft,
Sebelum saya menulis, saya membaca banyak ttg free software. Saya bahkan sudah kuliah di IF ITB saat free software belum menggema ke Indonesia. Saya bicara dengan praktisi di dalam dan luar negeri tentang free software, melihat blog dari orang yang pro dan kontra.
Semangat saya belum tentu bertentangan 100% dengan semangat pemerintah. Saya sdh bicara dengan eselon 1, eselon 2, dan eselon 3 pemerintah. Saya tidak mendapat order dari Microsoft. Tuduhan Anda berlebihan.
> atau bukan pula karena PC-Media tengah menjalin kemesraan dengan > Microsoft yang tengah berusaha memonopoli dunia. > Semoga kritik ini membuat PC-Media lebih fair dan berimbang dalam > memberitakan sesuatu hal, terutama di dunia TI.
Semua ini saya serahkan kepada PC Media. Seperti pernah saya ungkapkan kepada seorang pembaca: tidak ada yang abadi di dunia ini. Saya bisa berhenti menulis di PC Media karena berbagai hal: tidak dikehendaki redaksi, tidak dikehendaki pembaca, saya sudah bosan menulis, atau saya punya kegiatan lain yang terlalu menyita waktu. Tidak ada yang abadi.
Saya sampaikan bahwa berat menulis di PC Media. Saat ini saya belum tuntaskan tulisan untuk bulan Mei karena saya harus banyak membaca tentang bisnis sekuritas. Saya ingin menulis dengan bermutu, dan sekuritas jelas bukan bidang saya. Jadi, menulis tentang sekuritas ini, kaitannya dengan bisnis TI merupakan tantangan; dan sekaligus menjawab beberapa tanggapan pembaca.
Saya ulangi, tidak mudah menulis untuk PC Media, saya seorang yang perfeksionis, dan itu sebab saya tidak mau menulis di banyak media massa dan blog.
Saya ingin menulis tulisan bermutu, dan siap untuk menjawab keberatan2 dari pembaca. Sebelum saya menulis artikel yang Anda sanggah ini, saya sudah siap dengan jawaban-jawaban ini. Itu sekelumit tentang diri saya.
Anda punya blog. Semoga Anda bisa publikasikan jawaban saya ini. Anda inginkan pemberitaan yang berimbang kan? Saya juga.
Salam, Bernaridho
> Wassalam, > Syamsuddin > Guru, Praktisi TI, Blogger. > > Tulisan ini dipublikasikan di: > http://blog.syamsuddin.net > - Komunitas blogger Kalimantan Selatan > - Komunitas blogger Pahuluan > - Harian Radar Banjarmasin
Users' Comments (0)
|
|
|